「神様のいない日曜日」
Kamisama no inai nichiyoubi
(Konsep
Tuhan Dalam Wujud Karangan Fiksi Animasi)
Bila kita
membicarakan tentang kepercayaan atau sebuah agama yang dianut oleh manusia
saat ini, memang masih banyak segudang rahasia dan menimbulkan sebuah prokontra
itu tersendiri dalam manusia saat ini. Contoh sederhana nya adalah masyarakat
di Jepang, negara tersebut agama tidak diijinkan untuk diangkat kedalam publik
yang berarti negara tersebut tidak mencampuri yang dianut warga negaranya. Dari
sikap tersebut muncul beberapa pertanyaan seperti, apakah di Jepang tidak
sekolah yang berbasis agama? Apakah mereka tidak percaya adanya Tuhan?.

Salah satu
karangan novel ringan karangan Kimihito Irie tersebut membahas sebuah konsep
keberadaan tuhan menurut pemikiran fantasi dan sebuah rasa keinginan tahu yang
besar dari sang pengarang tersebut.
Tidak tanggung-tangung buku tersebut menjadi pemenang untuk kategori
cerita fantasi remaja pada tahun 2012, karya tersebut meledak pada awal tahun
2013 lalu dibuatlah versi manga (komik versi Jepang) dan tidak
tanggng-tanggung pada bulan July 2013 mendapatkan adaptasi anime
(animasi versi Jepang) sebanyak 12 episode. Namun di dalam karangan tersebut
ada 7 buah kalimat yang betul-betul menyita perhatian.
· Kalimat
pertama, 神様は月曜日に世界を作った。Kamisama wa getsuyoubi ni sekai wo tsukutta, Tuhan menciptakan dunia pada hari Senin.
·
Kalimat
kedua, 神様は火曜日に整頓と清純を極めた。Kamisama wa kayoubi ni seiton to seijun wo kiwameta, Tuhan memisahkan dengan tegas antara antara yang serba teratur dan
serba berantakan.
· Kalimat
ketiga, 神様は水曜日に細々とした数値をいじくった。Kamisama wa suiyoubi ni komagoma toshita suuchi wo ijikutta, Tuhan mengklasifikasikan segala sesuatu dengan rinci pada hari
Rabu.
· Kalimat
keempat, 神様は木曜日に時間が流れるのを許した。Kamisama wa mokuyoubi ni jikan ga nagareru no wo yurushita, Tuhan membiarkan waktu mengalir begitu saja pada hari Kamis.
· Kalimat
kelima, 神様は金曜日に世の偶々まで見た。Kamisama wa kinyoubi ni yo no tamatama made mita, Tuhan melihat hingga sudut-sudut belahan dunia pada hari Jumat.
· Kalimat
keenam 神様は土曜日に休んだ。Kamisama wa doyoubi ni yasunda, Tuhan
beristirahat pada hari Sabtu
· Kalimat
ketujuh 神様は日曜日に…。Kamisama wa nichiyoubi ni..., Tuhan
pada hari minggu..., Tuhan ada dimana dan melakukan apa, tidak diketahui, yang
jelas tidak berada di tempatnya.
Masyarakat Jepang
umumnya merupakan aliran agniostik, untuk masalah keesaan Tuhan, akan ada
perbedaan yang sangat mencolok, bertanya tentang agama atau keyakinan apa yang
dianutnya merupakan hal yang sangat tidak sopan bagi mereka yang tidak menganut
agama apapun walau masih percaya adanya kekuatan besar di balik punggung
manusia. Fakta yang terjadi sekarang ini jumlah pemeluk agama atau sebuah
keyakinan di Jepang ini melebihi jumlah penduduknya. Beberapa orang memilih
lebih dari satu agama atau keyakinan, salah satu akibatnya adalah dari tidak
adanya pelajaran agama dalam kurikulum pendidikan semenjak menginjak bangku
pendidikan. Sangat berbeda yang terjadi di Indonesia, sejak lahir orang sudah
diajarkan untuk memeluk atau kepercayaan tertentu, karena dalam pandangan orang
Indonesia orang hidup yang tidak memiliki agama itu merupakan sebuah hal yang
tabu atau tidak wajar.

Keberadaan
tuhan, sangat erat kaitannya dengan neraka, surga, dan dunia. Namun bagaimana
masyrakat Jepang memaknainya?, salah satu pemuda tersebut memaknai nya sebagai
berikut: “Surga dan Neraka itu ada, Hidup yang sesungguhnya dan dalam masa
panjang adalah di dunia. Supaya masuk surge
dan terhindar dari neraka simpel saja caranya. Yaitu, hanya melakukan
hal-hal yang tidak menyimpang dari aturan sosial masyarakat dimana dia hidup”.